Zoel Masry

Wisuda Untuk Emak

Oleh : Zulkarnaini Masry

Berat memang. Melepaskan buah hatinya yang saat itu masih terlalu kecil. Baginya tak sanggup membayangkan, jantung hatinya akan pamit di usia yang masih senja. Dengan separuh hati ia terpaksa melepaskan anaknya yang saat itu masih duduk dibangku kelas satu SLTP pindah ke Kutaraja. Melanjutkan pendidikan alasan utaman. Di kampung pendidikan sangat jauh tertinggal. Selain itu, konflik yang terjadi di Aceh memaksa ia menjada setelah suaminya dibawa paksa oleh orang bersebo.

Tak banyak yang bisa ia lakukan. Selain menangis dan berdoa kepada Allah, semoga arwah mendiang diterima disisi Allah SWT.

Kenangan itu masih berbekas. Dipagi yang tak begitu terang, karena semalaman hujan lebat. Aku menyalami tangan kasar penuh kasih sayang itu, kemudian aku tenggelam dalam pelukan hangat Emak, kasih sayangnya begitu terasa. Membuat kakiku berat meninggalkannya. Matanya basah, ukiran rasa kehilangan jelas tergambar diwajahnya yang kian tua. Aku diantar sampai kejalan, menunggu bus BE yang akan membawa aku jauh dari bidadari yang akan selalu ku rindukan.

“nyan beugoet-goet hai nyak (baik-baiklah di sana ya nak),” pesan Emak sebelum badanku ditelah perut BE yang baunya hampir membuat aku muntah.

Kamis, 21 Juli 2001. Aku dipaksakan oleh abang untuk tinggal di Banda Aceh, melanjutkan sekolah yang sempat putus karena konflik. Emak tak bisa berkata banyak, ia begitu paham dengan keadaan keluarga. Setelah ayah meninggal keluarga kami seakan tak lagi diharapkan dikampung Meuyee Lhee, Aceh Utara. Adikku saat itu masih kelas 4 SD saban hari menangis, mendapat ejekan dari kawan-kawannya di sekolah. Seakan keluarga yang ayahnya meninggal karena perang tak ada harganya.

Sampai-sampai ia tak mau sekolah, karena tak tahan dengan kata-kata sumbang dari kawan-kawannya. Tapi, Emak, begitu sabar, teguh meyakinkan adikku sehingga ia tetap mau sekolah. Dan demi pendidikan juga, Emak merelakan aku hidup jauh dari sisinya. Tak makan masakannya berhari-hari, berbulan dan tahun. Tak ada yang membangunnya tengah malam untuk minta ditemani pipis. Tak ada yang menemaninya ke sawah menjaga padi dari serbuan pipit nakal. Tak ada yang membawa buah pinang dari kebun bila sudah musim panen. Emak sendiri…!!

Melanjutkan pendidikan di Banda Aceh menjadi sebuah tantangan bagi aku. berat, berat sekali. Tinggal di panti asuhan, dengan semua aturan. Makan sudah diatur, bangun dan tidur ikut aturan. Mandi, sampai nyuci pun sudah ada jadwal. Saat itu lah aku berpikir betapa hati ku sukar, jauh dari Emak.

Membayangkan rautnya yang mulai keriput, memanggul cangkul, meniti pematang yang licin, mengayun cangkul dengan sisa tenaganya yang kian surut. Menyemai benih, seumeubet, seumula sampai keumeukoh Mak lakukan sendiri. Setelah gabah sudah tertata rapi dalam karung, hanya mampir di rumah tua kami, selanjutnya naik timbang ke toke-toke kampung. Uang dari penjualan padi ia kirimkan kepada abang dan aku.

Tak pernah ia mengeluh. Justru Emak sangat khawatir dengan keadaan aku di Kutaraja, setiap ada orang kampung yang kebetulan pulang. Belum sempat tangannya kering mencuci pakaian. Maka, buru-buru ia membuat makanan kesukaanku. Tape breuh leukat (makanan dari ketan yang diolah dengan ragi), di bungkus dalam daun khusus ia buat untuk aku.

Meniti hari di rumah tua peninggalan almarhum bersama adikku tak membuatnya rendah. Walaupun tak sempat menamatkan bangku SD, tapi Emak begitu sadar akan pentingnya pendidikan. Abang, kakak, Aku, dan adikku tetap harus sekolah supaya kehidupan keluarga kami akan berubah dihari kelak.

“lihat Mak! Anakkmu sudah kuliah, tahun depan aku wisuda. Emak akan bangga memiliki putra seperti aku,”.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: