Beranda > Cerpen > Kapan Kamu Menulis?

Kapan Kamu Menulis?

Oleh : Zulkarnaini Masry

“Sudah dua jam kamu memelototi laptop, satu paragraph pun belum kamu tulis. Kalau begini terus, kapan kamu akan menjadi penulis hebat,”.
“Nanda tidak mood bang. Berapa kali Nanda bilang, kalau Nanda gak bisa nulis kalau tidak mood,” matanya melotot tajam, bulu mata lentik naik turun. Aku berdiri di sampingnya, melihat layar laptop Microsoft Word masih kosong. Satu huruf pun tidak diketik.
“Mimpi Nanda kan ingin menjadi penulis,?” tanyaku geram sedikit berjongkok, ku dekatkan wajahku ke layar laptop acer miliknya.
“Melihat saja tak akan ada tulisan, malaikat tidak akan datang menekan keyboard bila kamu tidak melakukan sendiri,” sambungku lagi dan mengambil kursi duduk di sampingnya.
“Nanda sedang mencari ide bang. Nanda sedang mencari kata-kata apa yang tepat untuk memulai tulisan. Nanda tidak bisa menulis kalau kalimat pembukanya tidak mantap. Coba abang tulis descripsi awalnya. Nanti biar Nanda yang lanjutin,”. Laptop digeser ke depanku. Lima menit baru aku memainkannya, itupun bukan untuk merangkai kata-kata seperti apa yang diinginkan Nanda. Microsoft Word ku tutup. Aku lebih memilih main games solitaire.
Wajahnya berubah masam, dengan sinis ia bilang “Abang juga gak bisakan memulai dengan kalimat yang menarik,”?
“Abang tu sok pintar, bisanya mengajarin orang, tapi abang sendiri tidak melakukan. Lihat saja Nanda bakal buat cerpen yang bagus, lebih bagus dari cerpen-cerpen yang pernah abang buat. Nanda bisa nandingin ‘Tunggu Aku Bidadari’ cerpen abang yang di muat di media kampus. Sekarang abang ajarkan Nanda bagaimana menemukan kalimat pembuka yang bagus,”.
***
Ada pesan masuk di Handphoneku, ternyata dari Nanda.
“Nanda mau nulis cerpen tentang seorang nenek tua yang tinggal di gubuk reot, sendiri dan tempatnya di kaki gunung. Nanda tidak ngerti bagaimana menyusun kalimat pembuka yang mampu mendeskripsikan keadaan rumah tersebut. Abang bantu bentar ya? Nanda kasih waktu 10 menit. Please ya my honey”
Tetap saja, kalimat pembuka. Sudah berulang kali aku bilang, kalau menulis itu jangan menunggu kalimat yang cocok. Semua bagus, tuliskan saja dulu apa yang ada dalam pikiran. Kemudian setelah selesai dibaca kembali berulang-ulang, kemudian baru di edit. Pada tahap inilah kita tahu, mana kata-kata yang tidak cocok dan harus diganti.
Ku baca lagi ide cerita yang ingin ia kembangkan. Cerita getirnya kehidupan seorang nenek, tinggal di gubuk reot, dinding rumah bolong-bolong, atapnya terbuat dari pelepah rumbia kalau hujan pasti bocor.
Ku turutkan saja inginnya. Ku ambil kertas HVS dan polpen, aku mulai mendescripsikan gubuk reot dengan kata-kataku. Aku teringat kata Maimun Saleh, dosen kami di Muharram Journalist College (MJC), satu-satunya sekolah khusus jurnalis yang ada di Aceh. Menulis feature sama dengan menulis cerpen. Bedanya cerpen cerita fiksi sedangkan feature kisah nyata. Tapi teknis menulisnya sama. Kunci sebuah tulisan bagaimana kita mampu menghadirkan ‘gambar’ ke dalam ruang pembaca. Descripsinya (penggambaran) harus kuat.

Aku berharap, menulis beberapa kalimat pembuka bisa membantunya menghasilkan satu cerpen, bukan berarti aku lebih pintar menulis. Tidak, aku juga masih belajar, bahkan tulisan aku belum pernah di muat oleh Koran lokal, walaupun sudah berulang kali cerpen aku nangkring di meja redaksi. Yah..! namanya berusaha tak ada finish line.
Satu alenia telah ku tulis sebagai descripsi awal cerpen Nanda yang menceritakan tentang kisah hidup seorang nenek tua serba kekurangan.
“Rumah layaknya gubuk itu sudah bertapak di kaki bukit sejak Suharto memimpin negeri ini, tepatnya pada tahun 1969 satu tahun setelah Suharto dilantik menjadi presiden Indonesia kedua setelah Sukarno. Sampai sekarang dinding belum juga diganti, padahal presiden sudah berganti 5. Atapnya hanya ditutupi daun rumbia dianyam asal jadi, kalau hujan air berembes hampir kesemua sudut, tidak jarang bila angin kencang rumah milik perempuan tua bergoyang tak sanggup menahan terpaan. Sudah berapa kali pemerintah bertamu kerumah itu, meminta kepada penghuninya untuk bersedia rumah tua itu di robohkan dan diganti dengan rumah semi permanen. Tapi, perempuan itu tetap bersikukuh untuk tinggal di rumah reotnya. Ada sesuatu yang dia rahasiakan kepada umum tentang rumah reot itu”
Ku baca lagi deskripsi kalimat pembuka yang ku tulis untuk Nanda. Menurut aku sudah bagus, pun begitu nanti bisa dia sesuaikan lagi. Kalau menurut dia kurang menarik, dia bisa menambah atau mengurangi, bahkan boleh tidak menggunakan sedikitpun.
10 menit. Waktu yang diberikan sudah habis.
Kring…! Kring………..! handphone aku menyalak. Panggilan dari Nanda.
“Assalamualaikum,” ucapku
“Waalaikum salam,” sahutnya diseberang.
“Tugas yang Nanda kasih tadi dah siapkan,?”
“Gampang kalau untuk Nanda, semuanya akan abang lakuin,” aku sedikit manja.
“Coba beh abang baca,” mintanya tak sabaran.
“Dengar baik-baik ya,?” aku mulai membaca descripsi yang telah ku siapkan perlahan-lahan, sengaja aku membaca dengan intonasi yang sesuai dengan alur cerita, agar isi cerita bisa tersampaikan.
“Gimana, mantap,?” tanyaku dengan penuh percaya diri.
“Apa mantap. Nanda tadi nyuruh buat descripsi, jadi nggak perlu ada presiden-presiden segala. Cerita nenek tua nggak ada hubungannya dengan Suharto. Abang ihklas nggak sih bikinnya,?” suaranya meninggi. Aku diam saja, aku sudah berusaha menulis sebagus mungkin. Ku coba memberi pemahaman tentang menulis seperti apa yang pernah aku baca di buku teknis menulis fiksi.
“O…itu. Nanda, menulis cerpen bukan hanya menyampaikan inti cerita kepada pembaca. Tapi ada pengetahuan baru yang bisa kita selip. Contoh, seperti yang abang tulis tadi.” Ku baca lagi kalimat pembuka.
“Rumah layaknya gubuk itu sudah bertapak di kaki bukit sejak Suharto memimpin negeri ini, tepatnya pada tahun 1969, satu tahun setelah Suharto dilantik menjadi presiden Indonesia kedua setelah Sukarno”
“Di kalimat pembuka itu ada ilmu yang tersampaikan, tahun berapa Suharto menjadi presiden Indonesia. Kemudian kata-kata sudah lima orang presiden berganti, itu menandakan rumah tersebut sudah sangat tua,” jelasku panjang lebar.
“Abang cukup menulis descripsi, tidak perlu mengait-ngait sampai kesana,” dia bersikeras. Dia mengatakan apa yang aku tulis tidak menarik untuk kalimat pembuka cerpen. Wataknya memang seperti itu, tidak mau menerima masukan. Mungkin sudah puluhan kali aku ceramahin dia, tapi sikapnya belum juga berubah.
“Menjadi seorang penulis kita harus bersikap terbuka, menerima kritikan. Karena yang menilai tulisan kita orang lain, bukan kita sendiri. Menurut kita sudah bagus, tapi belum tentu menurut pembaca bagus. Alangkah baiknya sebelum mengirim ke media, suruh baca sama beberapa orang. Siapa tau masukan dari mereka akan membuat cerpen kita lebih profit. Kalaupun saran mereka tidak tepat, ya terserah penulis. Mau dirubah atau tidak,” dia mendengar cemberut bila aku mulai berpidato seperti ini.
“Nanda mau sekali nulis hasilnya bagus. Jadi kita puas dengan karya kita,” itu kalimat pembelaan yang sering dia pakai. Kalau sudah seperti ini, aku harus menanggapi dengan dingin.
“Penulis itu tidak pernah puas terhadap karyanya. Karena ‘buah tangan’ dia untuk dinikmati orang lain. Bukan lantas kita ‘menyantapnya’ lalu kenyang dan berhenti menulis. Menulis juga tidak perlu tergesa-gesa, tidak perlu memaksa diri sekali tulis langsung siap saji. Kalau terlalu cepat puas, berarti kita tidak menulis lagi dong,” Aku menanggapi secara bijak.
“Sebenarnya menulis sangat gampang. Kita cukup menulis apa yang kita pikirkan, jangan memikirkan apa yang akan kita tulis,” aku tak pernah menyerah membimbing dia agar menulis.
Dia diam, aku tahu kalau sudah diam pasti ngambeknya kambuh.
“Banyak kali ceramah, nyesal Nanda minta tolong buat deskripsi sama abang. Abang tunggu saja, Nanda akan menghasilkan satu cerpen bagus, lebih bagus dari pernah abang tulis,” tet…! Handphone dimatikan.
***
Sudah 3 bulan, tapi belum satu tulisanpun dia hasilkan. Ku ambil handpone ku tuliskan satu pesan.
“Kapan kamu menulis.?”

Kategori:Cerpen
  1. 9 Maret 2012 pukul 06:25

    Assalamu’alaikum
    salem aneuk nangroe

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: