Beranda > Berita > PERSMA; JEMBATAN SETELAH DAMAI

PERSMA; JEMBATAN SETELAH DAMAI

PERSMA

JEMBATAN SETELAH DAMAI

Oleh : Zulkarnaini Masry

Sebuah keinginan yang tertunda. Setelah perencanaan menerbitkan media kampus awal 2006 terhenti karena tidak ada biaya cetak, akhirnya pada 22 Maret 2008 keinginan itu terwujud. Sebuah media yang diberi nama Lensa meluncur dari tangan sejumlah mahasiswa Unmuha.

“22 Maret 2008, tepatnya pukul 11.00 Wib, di ruang sederhana lantai 3 gedung utama, Pers Mahasiswa Unmuha dikukuhkan. Kita sepakat memberi nama tabloid Lensa, dengan jargon Faktual dan Realistis,” kisah Nasruddin, 29 tahun, ketua umum lembaga pers mahasiswa Unmuha.

“makna perdamaian bukan tidak ada letusan bedil. Tetapi, hak-hak korban juga harus terpenuhi,” ujarnya saat ditemui Nanggroe, Selasa (5/5).

Masih menurut Nasruddin, peran lain yang bisa dilakukan oleh Persma dalam menjaga perdamaian, proaktif dalam menyampaikan berita-berita yang tidak bersifat provokatif. Peran mahasiswa sebagai control sosial harus dilahirkan melalui tulisan-tulisan.

“saat ini media umum hanya menjual berita, bukan lagi penyambung lidah masyarakat. Kini Persma dengan pers umum terjadi permulaan baru. Pers umum bergerak secara luas, nasional bahkan internasional, didalamnya tidak terkait dengan kemahasiswaan. Sementara Persma total berbasis mahasiswa, karena bergerak diranah mahasiswa. Maka nilai-nilai idealisme, independensi, egaliterisme dan semacamnya tertanam menjadi ideologi. Jadi wajar kalau ada pengamat memprediksikan Persma akan menjadi penyelamat, saat pers umum larut dalam kebohongan publik,” jelasnya panjang lebar.

Kelahiran Sumber Post di Iain Ar-raniry juga tak luput dari misi menjaga perdamian. Bahkan, Persma yang berdiri pada 21 Maret 2006 ini awalnya untuk mengawal proses rehap-rekon pasca tsunami. Bukan hanya itu, mendorong pengesehan UUPA juga menjadi motivasi tersendiri.

Bustami, 22 tahun, pimpinan umum Sumber Post ini kepada Nanggroe mengatakan, dalam upaya menjaga perdamaian pihaknya tetap konsisten dengan mengangkat isu-isu yang berkaitan. “Dulu kami pernah menulis tentang nasib tapol dan napol Aceh yang sampai sekarang masih dipenjara. Lalu mereka menelpon kami, dan mengadu tentang kejelasan nasib mereka. Tapi, hanya ini yang bisa kami lakukan,” tutur lelaki yang masih tercatat sebagai mahasiswa di Fakultas Dakwah ini sambil memperlihatkan majalah Sumber Post yang memuat tulisan nasib tapol napol Aceh.

Ke depan, ia akan memfokuskan pengembangan kapasitas menulis bagi anggota. Karena bagaimana pun, selain sebagai control sosial, Sumber Post juga sebagai tempat belajar bagi mahasiswa. “Kepanjangan Sumber sendiri kan Suara Mahasiswa Berkarya, sedangkan Post adalah tempat,” canda Bustami. Selain mendapat dukungan dari mahasiswa, Sumber Post juga mendapat anggaran kemahasiswaan dari kampus. “Cukuplah untuk percetakan,” tambah pria asal Aceh Utara ini.

Kisah Detak lain lagi. Media kampus milik mahasiswa Universitas Syiah Kuala ini sedikit tertatih dalam melakukan penerbitan. Bahkan sempat dibredel oleh rektorat karena memuat berita yang menurut mereka “mencoreng” almamater.

Pun begitu tidak menyurutkan semangat untuk melakukan perubahan. Berbagai cara dilakukan. Mengalami masa ‘suram’ pada pertengahan 2004 Detak mati suri. Kemudian pasca tsunami, mereka kembali bersuara. Ini tidak terlepas dari dukungan pihak luar yang mau membantu biaya penerbitan.

Tapi kini?

Nur Hadi, pimpinan umum Detak mengakui ada sedikit kesulitan dalam melakukan pengembangan persma. “Anggaran, sumber daya manusia dan loyalitas merupakan permasalahan yang kerap kami hadapi,” aku lelaki yang kerap disapa Hadi.

Namun, semangat pergerakan dalam melakukan perubahan menjadi modal tersendiri. Buktinya, mereka tetap eksis sampai sekarang, walau sedikit megap-megap, saat pemberitaan siap naik cetak.

Ke depan dalam mengisi dan menjaga perdamian, Lembaga Persma yang berdiri 1995 ini lebih mengdepankan pengembangan kemampuan menulis bagi anggota. Sehingga, tulisan yang mereka lahirkan tidak membuat suasana perdamain terusik. Hadi mengakui, persma mempunyai tanggung jawab besar dalam menjaga perdamian.

Kemunduran Persma, menurut Said Mahyiuddin, Kepala Biro Kemahasiswaan Unmuha, karena kehilangan ide bersama. “dulu persma bergerak dengan misi yang satu, yaitu nasionalisme, dengan memperjuangkan reformasi,” ujarnya saat menjadi pemateri dikegiatan evaluasi dan proyeksi bersama persma se-Aceh di Sabang Februari lalu.

Di Aceh, persma bisa bergerak dengan tujuan bersama untuk menjaga perdamian. Hal ini dikatakan oleh Zulfikar Abdulah, mantan staf Institute Perdamaian Indonsia – Inter Peace, saat ini aktif sebagai fasilitator Impact. Menurutnya, Pers merupakan lumbungnya informasi. Begitu juga dengan Persma, walaupun tujuan utama untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Namun, mereka juga mempunyai tanggung jawab terhadap semua persoalan di Aceh, tak terkecuali perdamain.

Dalam konteks perdamaian, persma harus mampu menjadi jembatan antara pihak-pihak yang bertikai. “Persma bisa menjembatani elemen-elemen tertentu. Misal masyarakat dengan pemerintah, dan stake holder lainnya. Dengan cara menyediakan infromasi yang up to date, sehingga masyarakat tahu dan bisa menganalisis konflik,” jelasnya, Jumat (8/5).

Selanjutnya, Persma juga bisa menjadi bahagian dari pihak-pihak tertentu. “Artinya bukan menjadi bahagian dari mereka untuk mencapai kepentingan. Tapi, dapat mengakses informasi-informasi yang nantinya bisa dipublish kepada masyarakat luas,” ulasnya lagi.***

Kategori:Berita
  1. charzel
    11 Juli 2009 pukul 06:15

    zoel, jadi sutradara aja dari pada jadi wartawan, lebih banyak uangnya jadi sutra dara dari pada wartawan

  2. zoel
    12 Juli 2009 pukul 18:05

    ya bos..
    ide lo bagus.
    rencana aku, memang mau buat casting
    qo mau jadi bintang?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: