Beranda > Cerpen, Feature > Tunggu Aku Bidadari

Tunggu Aku Bidadari

Oleh : Zulkarnaini Masry*

Mataku perlahan bergerak, dan akhirnya terbuka lebar.

“Ah…! Ternyata sudah pagi.”

Badanku terasa sangat berat, setelah semalaman bergadang menyelesaikan tugas kantor.dfg

“Ana! Kamu belum tidur?”

“dari semalam kamu temanin aku kerja.”

Kulihat ada bidadari di mata perempuan yang selalu menjadi motivasi. Ia tersenyum. Masih seperti 6 tahun lalu. Wajah begitu teduh, mata bening pancaran ketulusan cinta. Cinta yang tak pernah luntur.

“cinta kita akan tetap abadi Bang, walaupun kita berpisah,” otakku memutar kembali apa yang permah di ucapkan olehnya.

“orang-orang shaleh akan selalu disatukan,” suara itu kembali kudengar.

“Abang harus sabar, didunia bersama, di akhirat juga.”

Pelan, jari-jariku mendarat diwajah cerahnya, ia diam, selalu begitu. Ia terlalu pasrah saat jari-jariku bermain manja di wajahnya yang datar. Ku usap pipinya, telunjuk mengkatup bibir merah tanpa lipstick itu. Tatapannya selalu tajam. Namun, dibalik ketajaman terpancar cinta yang tulus.

“tak pernah pudar, cinta sejati hanya sekali,” begitu bisiknya suatu malam.

Membuat aku tersanjung sekaligus kecut. Aku tersanjung karena memiliki pendamping dengan budi luhur. Dilain sisi aku kecut karena penyesalan, merasa tidak mampu memberikan seperti apa yang ia berikan kepadaku.

“ Abang sudah berusaha, tapi rezeki diatur oleh yang di atas. Ana bahagia hidup bersama Abang, Ana bahagia memiliki suami seperti Abang.”

“maafkan, Abang tidak mampu memberikan yang terbaik untuk kamu dan anak kita,” kepala ku menunduk ke dinding. Saat itu umur anak kami baru 1,5 tahun.

“hari ini senin Bang, sebelum shalat subuh, Ana sudah berniat puasa sunat.” Suaranya masih membekas.

“iya, Abang tahu. Tapi kamu harus menjaga kesehatan demi anak kita. Kamu kan masih menyusui.” Jawabku dengan kepala masih menghadap dinding.

Seaat aku merasa hangat, tubuhnya memeluk aku dari belakang, kepalanya disandarkan ke pundakku, terasa dingin.

“kamu menangis?”

Ku peluk erat, telunjukku mengusap matanya yang basah. Kami menatap dalam diam. Ia begitu sempurna, mungkin jelmaan bidadari yang diutus oleh tuhan untuk orang-orang pilihan.

Aku semakin jauh kembali.

Sangat berat, kami mengambil keputusan untuk hidup bersama di usia yang relatif muda, sama-sama masih mahasiswa. Awal-awal menikah kami begitu bahagia, hidup dalam kesederhaan. Kebutuhan kami berdua, mulai rumah tangga sampai urusan kampus masih bisa terpenuhi dari honor aku sebagai guru di Popes dan hasil tulisan-tulisan yang kukirim ke berbagai media.

“Alhamdulillah, Allah memberi kita amanah,” bisik Ana ketika aku wisuda.

Allah maha pengasih, dua kebahagian besar diberikan kepadaku. Hari ini aku sarjana, besok aku akan menjadi seorang ayah.

“terima kasih ya Allah.” Dahiku langsung menyentuh tanah tanda syukur.

Namun Allah punya rencana lain. Tepat usia kandungan Ana lima bulan, malamnya aku terburu-buru keluar membeli obat. Tiba-tiba kandungannya merasa sakit yang amat sangat. Aku sangat khawatir, bergegas berlari mencari apotik terdekat, jam menunjukkan pukul 1.15 malam. Di jalan aku dicegat orang-orang bersenjata. Aku diinterogasi, karena terburu-buru, aku lupa membawa dompet. KTP sebagai “nyawa kedua” tertinggal.

Mereka semakin curiga melihat aku gugup dan cemas. Aku mencemaskan Ana di rumah. Tapi itu bukan alasan untuk mereka. Popor senjata merobohkan aku, tak kuat aku menahan pukulan. Pikiranku melayang ke rumah, membayangkan Ana meringis menahan sakit.

Aku bangkit, menahan sakit di betis. Aku memohon pada pria “raksasa karena senjata”, tubuhku menunduk iba. Tapi tidak membuat mereka luruh. Sekejap sepatu tinggi menghantam mukaku, aku tersungkur. Bukan wajah yang sakit, hatiku semakin cemas membayangkan Ana.

Segenap tenaga, secepat mungkin aku berlari, tapi usahaku sia-sia. Timah kuning mendahului langkahku, menembus paha kiri, dan aku pasrah terkulai. Gelap, aku pingsan

***

Pelan, mataku terbuka.

“Alhadulillah, Abang sudah sadar.” Katanya menyambut aku kembali.

Wajah layu tersenyum layaknya terpaksa.

“hatinya pasti menangis.” Aku membatin.

Karena musibah itulah, semua tabungan kami habis untuk biaya pengobatan. Janji pemerintah membiayai hanya ada di media. Analah yang pontang-panting bekerja. Ia kembali aktif mengajar di kampus.

Sedangkan aku, hanya bisa menghabiskan waktu di kursi roda sambil membaca. Kadang-kadang masih menulis, walau tidak untuk ku publis ke media. Saat Ana melahirkan, aku selalu selalu ada disampingnya. Memberi makan dengan tanganku sediri. Kadang menulis puisi dan membacanya, bercerita tentang perjuangan Siti hajar saat membesarkan Ismail.

“dia adalah Siti Hajar-ku. Tidak pernah mengeluh, selalu tegar.”

Kami dikarunia seorang putra. Dialah Ismail-ku

“kelak kamu akan menjadi anak yang shaleh, seperti Ismail.”

***

Cobaan kembali datang. Musibah gempa dan stunami 26 Desember 2004 adalah hari terakhir aku melihatnya. Ia pergi bersama gelombang besar, tanpa mampu aku tolong. Rumah kami lenyap disapu air. Aku dan anak kami yang masih belia selamat, tersangkut di pohon kelapa. Sedangkan Ana terlepas dari genggamanku, karena tak sanggup menahan arus, sekejap ia hilang bersama pelukan gelombang pekat. Tak mampu aku melawan kuasa tuhan. Bidadari yang selama ini menjadi tenaga bagiku pergi untuk selamanya.

“Ana, lihatlah! Anak kita sudah besar. Ia sudah sekolah, ia sudah bisa mengaji. Tiap usai shalat kami selalu berdoa untukmu”

“Ana, masih ingat! Apa yang pernah kamu katakan dulu. Cinta sejati hanya sekali. Orang-orang shaleh akan selalu disatukan, walau di dunia berpisah, tapi di akhirat mereka akan bersama.”

“Ana, tunggu abang di sana!”

Air bening menetes membasahi gambar yang selama ini selalu menyambutku bangun pagi.

Banda Aceh, 20 Maret 2009

Pukul 03.55 Wib

Kategori:Cerpen, Feature
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: