Beranda > Feature > Cinta dan harga diri

Cinta dan harga diri

Bang cepetan dikit ya, Usra dah telat ne.

Setelah membaca langsung ku del dari inbox hp nokia yang baru 3 hari aku pakai. Secepat mungkin gas Honda supra yang aku pinjam dari ihsan kukencangkan. Tak perduli laju mobil disamping kiri dan kanan yang bisa menimbulkan bahaya. Aku hanya bertekad agar secepatnya bisa sampai ketempat Usra, pacar aku. Padahal kemarin baru saja kami bertengkar, yang mulai sih aku. Bagaimana tidak, saat ku baca kotak masuk di HP dia, banyak sekali sms sayang-sayang. Layaknya dikirim untuk seorang pacar. Itu lah pemicu yang membuat aku sakit hati. Sebenarnya bukan sakit hati, tapi karna rasa cinta yang membuat aku takut berpisah dengannya. Pantasnya disebut cemburu. Belum setengah perjalanan, hpku berdenting lagi. Kali ini bukan dari Usra tapi dari dari bang Tarmizi senior aku dikampus. Isinya kira-kira begini “abang dah dikampus, joel dimana sekarang?”. Ya Allah, aku baru ingat. Semalam aku dah janji tuk jumpa bang tarmizi, guna membahas masalah musyawarah komisariat di IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) organisasi yang aku tekuni dikampus. Sedikit memperlambat laju kereta kureplay sms bang Tar, nama yang biasa aku panggil. “maaf bang, joel ge dirumah ne, jaga kantor. 1 jam lagi kekampus”. Terpaksa aku berbohong, demi menepati janji dengan Usra. Lagian, jumpa bang Tar kan bisa nanti. Setelah menjemput Usra dan mengantarnya ke TB (Taman Budaya) tempat ia latihan tari dan teater.

Di samping jalan, Usra berdiri memandang kesal ke arahku.” Abang lama kali, kita dah kayak anak bodoh berdiri disini”. Seraya usra membuang kesal kearahku. Aku tidak menyahut apa-apa. Hanya diam, diam dan diam. Usra tidak tau, demi menjemput dia aku rela mengcancel janji dengan orang yang sangat aku hormati. Siapa lagi kalau bukan bang Tar. Tapi gak apa, biarkan saja dia mengomel, karna aku memang datang terlambat. Mungkin bagi dia aku memang pantas untuk dikesali. Aku hanya konsentrasi mengemudi. Semua pertanyaan yang dilontarkan Usra hanya berakhir kesal, karna tak sepatahpun keluar dari aku. Aku milih diam biar dia sedikit berpikir, mengapa aku diam, apa karna aku marah atau aku lagi ada masalah. Jujur, saat itu aku berharap pertanyaan serupa keluar dari mulutnya. Tapi apa lacur, malah dia juga milih diam. Akhirnya kami hanya membisu dengan angan-angan yang beterbangan.

Entah apa yang sedang merasuki otakku. Aku hanya merasakan indahnya saat-saat berdua seperti ini. Walaupun kami tidak saling bercengkrama. Bagiku, bisa berdua sudah lebih dari cukup. Mungkin karna ini merupakan pertama kalinya aku bisa berdua dengan orang yang aku cintai. Kadang aku tersenyum sendiri memikirkan Usra yang duduk diam dibelakangku, tak biasanya dia begini. Ini pasti karna aku tidak menjawab sepatahpun pertanyaannya dari tadi. Pikirku. Ya..untuk diketahui juga, aku tidak bisa marah pada orang yang aku cintai. Tapi, bila terjadi juga aku akan milih diam. Ini untuk menghindari keributan yang lebih besar. Moga aja dia paham dengan sifatku yang satu ini. Aku yakin dia dapat memahami karakter yang ada pada diriku. “bang,kenapa, dari tadi kok diam aja, marah ya ma usra ?”. Suara itu kembali menggema di telingaku, tapi kali ini dengan nada yang sangat kontras, kalau tadi marah-marah sekarang sangat lembut nyaman untuk didengar. Tapi bukan berarti aku akan merubah pendirian, sebelum sampai ke TB aku tidak akan ngomong titik.

Akhirnya Usra frustasi juga. Itu nampak ketika tubuhnya disandarkan kepunggungku, disertai desahan panjang seperti orang putus asa.Yang aku alami justru sebaliknya, kenikmatan yang tiada tara saat sentuhan tangannya mendarat dipundakku. Ingin aku katakan “sayang jangan lepaskan tanganmu”. Jujur aku suka. Seingat aku, ini belum pernah dia lakukan sebelumnya atau sudah,sweerr…aku tidak ingat.

Dengan perlahan kereta kami memasuki gerbang TB. Didepan salah satu gedung yang ada disitu, kereta aku berhentikan. Aku tidak tahu gedung apa itu, yang jelas aku pernah masuk ketika aku kelas 2 SMP, waktu mendaftar les musik. Tapi aku jarang masuk dan akhirnya aku milih keluar dari grub yang telah kami bentuk. Mungkin jiwaku bukan kesitu, walaupun sebenarnya aku jago dalam vokalis. Justru aku lebih tertarik memperdalam ilmu komputer dengan mengikuti les privat di SMK1 dengan biaya 160.000 per 20 kali pertemuan. Padahal les musik tidak dipungut biaya sedikit pun, alias pre tek-tok, prebu pre rukok-rukok. Bagiku itu adalah pilihan dan keinginan yang didasari kecintaan terhadapnya. Buktinya, sekarang aku telah mahir dalam mengaplikasikan computer. Juga tidak tertutup konsekuensi yang buruk terhadap suatu pilihan. Namun itu adalah takdir yang harus kita jalani.

“jam berapa mulai latihan?’. Tanyaku tanpa basa-basi. Dengan sedikit kesal dia menjawab “bentar lagi, tunggu kawan-kawan yang lain”. Posisi berdirinya sedikit di dekatkan ke tempat aku berdiri. “tadi di kereta kenapa gak mau ngomong”. Pertanyaan yang sudah aku duga. Tapi tidak mempersiapkan jawaban yang khusus. “ge mana mau ngomong, abangkan lagi nyetir, ntar ketabrak gemana?”. Jawabku seadanya. Namun, dalam jawaban tadi aku menyembunyikan sesuatu, apalagi kalau bukan masalah saving jajan yang tersisa. Dalam hati kecil terbersit juga untuk minta pinjam sama Usra. Tapi……gemana ya?. Apa tidak jatuh harga diri seorang cowok minta pinjam duet ama pacarnya? Okelah, kalau cewek yang bisa memahami keadaan kita, aku takut justru sebaliknya. Menunggu dia bertanya, kayaknya mustahil dech…! jadi aku harus bagaimana. Sepertinya tidak akan pernah ada jika tidak dimulai. Aku harus berani, begitu pikirku saat itu. “usra, boleh abang pinjam duet barang 50 ribu?”. Dia tidak begitu open dengan pinta ku sang satu itu. Entah…..! aku takut kalau dia salah persepsi, mengira aku adalah cowok matre. Mudah-mudahan saja tidak. Seaat tangannya sibuk dikantong dan mengeluarkan selembar seribuan, itupun sudah lusuh. “bang, usra tidak bawa duet, untuk pulang dengan labi-labi saja tidak cukup”. Jawabnya tanpa ada sedikit perasaan menyesal. Penyesalan itu justru hinggap di hatiku. Bodoh…bodoh….aku bener-bener bodoh, mengatakan itu pada cewek yang belum memahami aku sepenuhnya. Walaupun dia sudah menjadi pacarku. Tapi, itu bukan suatu jaminan dia akan menerima kita dengan segala yang ada pada diri kita.Bisa saja hari ini dia mau karna belum tau siapa kita sesungguhnya. Tidak tertutup kemungkinan besok, lusa, atau nanti dia akan mengatakan cinta pada cowok lain, yang dia anggap lebih pantas dengan dia.

Usra masih sibuk mengutak-atik Hp nokia yang ia miliki. Kadang tersenyum sendiri tanpa memperdulikan apa yang sedang aku pikirkan. Tiba-tiba, hpku bendenting 1 pesan diterima kubaca perlahan-lahan “pakabar bang jun, dek liza dapat rangking satu, mana hadiahnya? Ne dek liza yang tulis. Muachk…..100x”. lucu juga sms barusan. Dek liza adalah adik aku yang paling kecil, baru duduk dikelas dua SD tapi dia anak yang pinter, dari kelas satu berturut-turut setiap pembagian rapor selalu mendapat rangking satu. Kalau sudah begitu, hadiahpun banjir menghampiri adikku yang satu itu. Dari bang Agus, kak April, dari dek Ita juga tidak alpa dari aku. Bahagia sekali hatiku saat menerima sms dari kampung, lebih-lebih yang ketik dek liza sendiri, padahal dia baru kelas dua SD tapi sudah mahir pakek HP. Wah…adikku tambah pinter aja. Pujiku dalam hati. Akan kubagikan kebahagiaan yang sedang aku alami, dengan orang yang aku cintai. Siapa lagi kalau bukan Usra. Seaat masalah tadi terlupakan. “Ada sms dari kampung, tau dari siapa, dari adik abang yang paling abang sayangi. Katanya dia mendapat rangking satu dan dia minta hadiah, usra yang balas ya?”. Ne…sembari handphon, ku sodorkan pada Usra. Dengan harapan dia mau membalas sms adik aku, bukankah adikku adik dia juga. Aku akan sangat senang jika yang membalasnya adalah Usra. Aku ingin melihat sejauh mana perhatiannya terhadap aku, juga terhadap keluarga aku. “udah, abang aja yang balas”. Tolaknya. Dia masih sibuk dengan hpnya sendiri. Mungkin ada hal yang lebih penting dari pada memforward sms adik aku. Ah…..tidak apa-apa, lagian bukan dikirim untuknya. Dia juga tidak tau sebesar mana cintaku untuk dek liza. Tapi,dalam hati aku juga sedikit kecewa. Tak pernah terbayang hal ini akan terjadi. Apakah aku mencintai orang yang salah?. Atau aku yang terlalu hijau dalam hal ini. Sehingga dengan mudah tersingung hanya gara-gara tidak ada persediaan uang untuk aku pinjam dan karna sms adik aku yang tidak mau dia balas. Tidak baik zudhon terhadap orang lain, setiap masalah pasti ada titik baik dan buruknya. Maka aku berupaya untuk mengambil hikmahnya saja. Tidak mungkin Usra tidak membawa persiapan uang, kalau tidak lupa. Jadi, bagaimana pun aku harus menjemput dia saat pulang nanti. Dan mengantarnya kembali kerumah.

“usra mau bilang sesuatu, tapi abang harus janji, tidak akan marah”. Pinta usra seperti mengiba.” Emang da apa”. Tanyaku heran. “pokoknya abang janji dulu, tidak akan marah. Kalau gak, usra gak mau bilang”. Dia memaksa kehendaknya. Karna rasa penasaran ingin tau, “oke dech, abang janji”. Kusanggupi syarat yang dia ajukan.”perasaan Usra belum tenang, kalau hal ini belum usra ceritakan pada abang. Sebelumnya, Usra minta maaf. Usra tidak bermaksud menyakiti hati abang, apalagi menduakan. Tapi sudah menjadi sifat funpondamental pada usra, kalau sudah suka sama seseorang tidak akan tenang jika dia tidak menjadi pacar usra. Walaupun hanya seminggu, sehari bahkan bisa satu jam. Kemaren usra telah menerima cinta dari adiknya mantan pacar Usra. Tapi hanya 3 hari, habis tu kami langsung putus. Karna Usra tidak suka dengan sifatnya.jadi bukan dia yang mutusin Usra, tapi Usra yang mutusin dia”. Ceritanya dengan radar-radar bangga dan takut. Jiwa ku bagai pohon di sambar petir saat mendengarnya, semua daun yang hijau nan rindang jatuh berguguran membentur tanah, dan di bawa terbang oleh angin hingga jatuh keselokan yang berlumpur dan bau busuk. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya daun yang ringan sehingga dengan mudah dipaksa terbang kemana angin bertiup. Harga diri sehelai daun sungguh tidak berharga bagi hembusan angin sepoi-sepoi, apalagi angin badai. Seperti yang aku rasakan saat ini. Kebodohan dalam percintaan mulai tampak dari dalam jiwaku. Ingin sekali aku memaki dia,sekaligus menamparnya dan menelantarkan ketengah jalan, agar dia merasakan kepahitan yang aku rasakan atas perbuatannya, tapi aku tidak tau harus mulai dari mana. Belum pernah tangan ini berlaku keras terhadap seorang cewek, bagiku cewek itu adalah orang yang harus dilindungi, bukan dikasari. Melihat apa yang terjadi, juga sangat layak jika hal itu berlaku terhadapnya. Setiap cowok pasti akan sangat terhina kalau diberlakukan hal seperti itu, harga diriku bener-bener telah dia kotori dengan cara menjual cinta kepada orang lain. Dalam hati aku menangis, menyesali apa yang telah terjadi. Teganya, dia menuruti sifat buruknya dan mempermainkan cinta orang yang sangat mencintainya. Bagiku kamu adalah putri yang berhati singa. Kecantikan wajahmu kau gunakan untuk menutupi kejelekan hatimu. Sungguh hal yang sangat memalukan, rendah sekali harga cintaku mampu kau jual dengan satu alasan “sudah menjadi sifatmu, tidak akan tenang jika belum mendapatkan orang yang kamu suka, walau hanya dalam menit, cinta kamu obral”. Mungkin bagi kamu hal ini biasa, tapi tidak bagi aku, walaupun aku juga harus mengakui, bahwa aku tidak memiliki apa-apa. Jangankan memberi untuk kamu, untuk keperluan sendiri saja aku tak cukup. Bahkan kurang.

Sejenak aku berpikir untuk meninggalkannya, untuk apa mencintai orang yang tidak bisa mencintai kita apa adanya. Orang yang lebih mengutamakan obsesi pribadi dari pada perasaan orang lain. Aneh…aneh sekali, cerita yang tidak pernah aku temukan di novel atau cerpen,tapi ini bukan novel, dan juga bukan cerpen. Ini sungguh aku alami. Kembali kata-kata tadi membersit jiwa ku. Apakah aku mencintai orang yang salah??? Atau aku yang salah karna tidak bisa menerima sifat anehnya???. Cukup, cukup. Aku tidak mau berselisih dengan hatiku. Tadi aku sudah berjanji, bahwa tidak akan marah. Aku tidak boleh munafik. Bagaimanapun, perjanjian yang telah aku ikrar harus aku lunasi. “Biarlah hati yang meronta, asal muka tetap sediakala”.

Hpku kembali berbunyi sms dari bang Tar, isinya dia sudah menunggu dikantin tempat biasa kami nongkrong dikampus. Aku harus bergegas kesana, tidak baik mengecewakan orang yang sayang pada kita, karna aku telah merasakan betapa sakitnya dikecewakan. Jadi, aku tidak mau mengecewakan orang lain. Intinya aku langsung kekampus, yang jaraknya sekitar 7KM dari TB tempat Usra latihan. Akhirnya aku pergi dengan hati yang terluka, terluka oleh orang yang aku cinta. Sempat juga aku meneteskan air mata, tapi taukah dia. Mungkin baginya sebuah kelegaan karna telah menceritakan hal itu pada ku. Namun, yang aku rasakan berputar terbalik. Tiada terasa air bening menetes dari kelopak mataku, biarkan saja aku menangis, meratapi kesalahan yang ku buat sendiri. Bukan penyesalan tapi resiko yang harus kujalani yang datang dari pilihanku sendiri. Inilah konsekuensi dari cintaku.

Kutata diriku, dengan sigap kuhampiri bang Tar yang duduk sendiri disalah satu bangku dikantin yang diberi nama jomblo. “Assalamualaikum…sembari tangannya aku jabat.”maaf bang, joel terlambat”. Kupilih kursi yang berdampingan dengannya.”ge mana sudah persiapan untuk melaksanakan musyawarah komisariat”. Tanya bang Tar dan memanggil penjaga kantin untuk memesan air untukku. “insya Allah, kita siap melaksanakan dalam minggu ini”. Jawabku tanpa konsentrasi. Pikiranku masih memikirkan masalah tadi. “ kamu list terus apa-apa yang menjadi kebutuhan pokok, nanti kasih sama abang, biar joel aja yang beli abang kasih duetnya”.”oke…bang, besok kita jumpa lagi disini”. Kataku mantap. Sekitar 30 menit kami ngobrol, Azhar, Akbar dan Edy datang turut nimbrung bersama kami. Mereka juga anggota IMM, tapi dari fakultas yang berbeda. Lama juga kami disana. Bahkan semua list keperluan telah kami siapkan dengan bersama. Hanya tinggal kapan kami beli. Mudah-mudahan acaranya bisa sukses.

Tet…tet….tet…!

Lagi-lagi Hpku memekik ada pesan yang masuk “bang, Usra dah pulang jemput sekarang ya?”. Pulsa tidak ada gemana ne, terpaksa aku minta sama azhar, untuk membalas sms sang pujaan yang tidak tau diri. Sebenarnya, aku ada sedikit rasa untuk tidak menjemputnya. Tapi, luluh juga hatiku. Membayangkan dia tidak bawa duet, bagaimana dia harus pulang. Lagian dia tidak tau kalau aku sangat tersiksa dengan ceritanya tadi. Dia tidak boleh tau tentang perasaanku. Biarkan derita ini bersemayam di lubuk hatiku yang paling dalam, tanpa diketahui oleh siapapun. Cukup aku dan sang pencipta. “ya, tunggu disitu”. Balasku.

Sampai aku di TB Usra sudah menunggu disana bersama temen-temen yang lain. “Ayo….kita pulang dah mo magrib ne”. Ajakku datar seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Di sambut dengan senyuman manis darinya, tapi aku tidak tau apakah senyum yang manis di bibir dan pahit dihati. Hanya dia yang bisa merasakan. Cukuplah aku melihat manisnya saja dan merasakan pahitnya jua.

Tak perlu kau minta bukti lagi,

Air mata yang jatuh cukup sudah bagimu

Cukup aku menahan panah cinta yang beracun

Berusaha berubah menjadi panah cupit

Yang di idamkan semua orang

Jangan tanyakan lagi

Biar alam yang akan menjadi bukti

Dari cinta suciku

Kategori:Feature
  1. 3 Agustus 2013 pukul 04:59

    Additionally, these results suggest that if we had performed the same study, but without over-feeding them,
    the fasted morning exercise group would have experienced more rapid weight loss than
    the other two groups. And there are a couple of other conditions that
    can be mistaken for a pelvic tumor. You will also be able to see dietary progress in a graph
    form, which helps you itemize weight loss.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: