Kapan Kamu Menulis?

14 Februari 2011 1 komentar

Oleh : Zulkarnaini Masry

“Sudah dua jam kamu memelototi laptop, satu paragraph pun belum kamu tulis. Kalau begini terus, kapan kamu akan menjadi penulis hebat,”.
“Nanda tidak mood bang. Berapa kali Nanda bilang, kalau Nanda gak bisa nulis kalau tidak mood,” matanya melotot tajam, bulu mata lentik naik turun. Aku berdiri di sampingnya, melihat layar laptop Microsoft Word masih kosong. Satu huruf pun tidak diketik.
“Mimpi Nanda kan ingin menjadi penulis,?” tanyaku geram sedikit berjongkok, ku dekatkan wajahku ke layar laptop acer miliknya.
“Melihat saja tak akan ada tulisan, malaikat tidak akan datang menekan keyboard bila kamu tidak melakukan sendiri,” sambungku lagi dan mengambil kursi duduk di sampingnya.
“Nanda sedang mencari ide bang. Nanda sedang mencari kata-kata apa yang tepat untuk memulai tulisan. Nanda tidak bisa menulis kalau kalimat pembukanya tidak mantap. Coba abang tulis descripsi awalnya. Nanti biar Nanda yang lanjutin,”. Laptop digeser ke depanku. Lima menit baru aku memainkannya, itupun bukan untuk merangkai kata-kata seperti apa yang diinginkan Nanda. Microsoft Word ku tutup. Aku lebih memilih main games solitaire.
Wajahnya berubah masam, dengan sinis ia bilang “Abang juga gak bisakan memulai dengan kalimat yang menarik,”?
“Abang tu sok pintar, bisanya mengajarin orang, tapi abang sendiri tidak melakukan. Lihat saja Nanda bakal buat cerpen yang bagus, lebih bagus dari cerpen-cerpen yang pernah abang buat. Nanda bisa nandingin ‘Tunggu Aku Bidadari’ cerpen abang yang di muat di media kampus. Sekarang abang ajarkan Nanda bagaimana menemukan kalimat pembuka yang bagus,”.
***
Ada pesan masuk di Handphoneku, ternyata dari Nanda.
“Nanda mau nulis cerpen tentang seorang nenek tua yang tinggal di gubuk reot, sendiri dan tempatnya di kaki gunung. Nanda tidak ngerti bagaimana menyusun kalimat pembuka yang mampu mendeskripsikan keadaan rumah tersebut. Abang bantu bentar ya? Nanda kasih waktu 10 menit. Please ya my honey”
Tetap saja, kalimat pembuka. Sudah berulang kali aku bilang, kalau menulis itu jangan menunggu kalimat yang cocok. Semua bagus, tuliskan saja dulu apa yang ada dalam pikiran. Kemudian setelah selesai dibaca kembali berulang-ulang, kemudian baru di edit. Pada tahap inilah kita tahu, mana kata-kata yang tidak cocok dan harus diganti.
Ku baca lagi ide cerita yang ingin ia kembangkan. Cerita getirnya kehidupan seorang nenek, tinggal di gubuk reot, dinding rumah bolong-bolong, atapnya terbuat dari pelepah rumbia kalau hujan pasti bocor.
Ku turutkan saja inginnya. Ku ambil kertas HVS dan polpen, aku mulai mendescripsikan gubuk reot dengan kata-kataku. Aku teringat kata Maimun Saleh, dosen kami di Muharram Journalist College (MJC), satu-satunya sekolah khusus jurnalis yang ada di Aceh. Menulis feature sama dengan menulis cerpen. Bedanya cerpen cerita fiksi sedangkan feature kisah nyata. Tapi teknis menulisnya sama. Kunci sebuah tulisan bagaimana kita mampu menghadirkan ‘gambar’ ke dalam ruang pembaca. Descripsinya (penggambaran) harus kuat.
Baca selanjutnya…

Kategori:Cerpen

Bakti Sosial

Kategori:Fotografi

budaya

Kategori:Fotografi

contoh proposal mubes

Musyawarah Besar Ke- I
Unit Kegiatan Mahasiswa
Pers Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Aceh
(UKM PERS UNMUHA)
Banda Aceh, 25 s.d 27 Juli 2009

Proposal
LATAR BELAKANG

Unit Kegiatan Mahasiswa Pers Mahasiswa Unmuha (UKM PERS MAHASISWA UNMUHA) lahir pada tanggal 28 Maret 2008. Berawal dari diskusi kecil oleh beberapa mahasiswa, terhadap kondisi riil mahasiswa yang notabene kaum intelektual. Namun melihat objektif hampir tidak ada buah pikiran yang mampu mereka persembahkan kepada orang lain melalui tulisan. Lebih spesifik mahasiswa Universitas Muhammadiyah Aceh, lulusannya, dosennya dan civitas akademika lainnya tak pernah menulis kemedia. Kita bisa melihat kebeberapa media lokal khususnya rubrik opini penulis yang membubuhi (nama Unmuha) tak pernah ada. Atau takkan pernah ada?

Beranjak dari permasalahan di atas, maka membentuk sebuah komunitas menulis di kampus sebuah keharusan. Setelah melalui persiapan panjang UKM PERS MAHASISWA UNMUHA berhasil didirikan dengan resmi, dinyatakan dengan Surat Keputusan Rektor Unmuha No : 014/2008, jumlah anggota saat itu 16 orang. Sedikit memang, kalau kita bandingkan dengan jumlah mahasiswa di Unmuha sebanyak 5 ribu orang.

Tujuan UKM PERS dirikan ádalah sebagai tempat kreatifitas mahasiswa dalam dunia tulis-menulis, mengajak dan mendidik mahasiswa yang memiliki keinginan menulis. Untuk me-nyatakan hasil kreatifitas mereka, UKM PERS menerbitkan sebuah media yang diberi nama Tabloid Lensa, dengan jargon Faktual dan Realistis. Bukan hanya itu, untuk menambah wawasan mahasiswa UKM PERS melaksanakan diskusi bulanan dengan mengundang pemateri dari internal kampus maupun eksternal kampus.

UKM PERS juga senantiasa melakukan kaderisasi, agar setiap periode selalu ada bibit-bibit handal yang siap membawa Unmuha melalui tulisan setela mereka tamat. Dengan begitu, generasi pena di Unmuha takkan pernah mengalami stagnan, bahkan kita sangat berharap semakin hari akan semakin banyak mahasiswa Unmuha yang memikili soft skill menulis.

Kini, genap sudah satu tahun berdirinya UKM PERS MAHASISWA UNMUHA. Berarti masa kepengurusan periode 2008-2009 sudah berakhir. Mengingat kaderisasi merupakan sebuah keharusan demi eksisnya oraganisasi, maka kami dari pengurus UKM PERS Periode 2008-2009 akan melaksanakan Musyawarah Besar ke-I (MUBES KE-I). Di sini nantinya akan diadakan pemilihan ketua sampai dengan kepengurusan yang baru. Sehingga harapan kami dan kita semua untuk menjadikan kampus Unmuha sebagai kampus number one bisa terwujud. Amin..!

Baca selanjutnya…

Kategori:plang-pleng

Pilpres:Pertobatan KIP Aceh

Pilpres :
Pertobatan KIP Aceh
Oleh : Zulkarnaini Masry

Kantor Geuchiek Gampong Lam Ara, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh tampak lengang. Di tangga hanya ada sepasang sandal jepit. Beberapa stiker yang bunyinya mengajak masyarakat untuk mendaftarkan diri sebagai pemilih di Pemilu Presiden (Pilpres) ditempel pada jendela depan.

Di ruangan, dua perempuan terlihat serius berbincang. Perempuan yang lebih tua adalah masyarakat setempat, sedang menunggu sekretaris desa. Dan satu lagi pekerja di kantor tersebut. Tepat didepan pintu masuk, papan pengumuman bersandar di dinding. Puluhan kertas Daftar Pemilih Sementara (DPS) Pimilu Presiden yang akan dilaksanakan Juli mendatang ditempel rapi.

Baca selanjutnya…

Kategori:Berita

Aroma Mie Aceh Di Jakarta

Aroma Mie Aceh Di Jakarta

Oleh : Zulkarnaini Masry

Mie Aceh Abu Din.

Mennyediakan berbagai makanan khas Aceh

Mie Aceh

Nasi goreng

Gulai kambing

Martabak

Sederetan menu di atas melekat dikaca bagian depan gerobak kayu yang nampak lusuh. Di balik gerobak seorang pria paruh baya terlihat sibuk. Tangan kanannya memegang sendok, sesaat suara denting belanga terdengar, tapi tidak membuat gaduh. Di sisi dalam gerobak, mie mentah bergerumbul-gerumbul. Warnanya kuning mengkilat, sedikit berbeda dengan warna mie mentah yang sering terlihat di Aceh.

Di samping dapur, terdapat meja panjang dilengkapi tiga bangku kayu. Meja tersebut dilapisi karpet merah dengan motif kotak-kotak. Serbet tersusun rapi, arca ditaruh dalam toples kecil. Dinding warung dipagari dengan spanduk bekas. Nuansa kesederhanaan begitu terpancar. Hanya lantainya yang membuat kesan sedikit mewah, mengkilap putih karena dilapisi dengan keramik.

Baca selanjutnya…

Kategori:Cerpen

PERSMA; JEMBATAN SETELAH DAMAI

PERSMA

JEMBATAN SETELAH DAMAI

Oleh : Zulkarnaini Masry

Sebuah keinginan yang tertunda. Setelah perencanaan menerbitkan media kampus awal 2006 terhenti karena tidak ada biaya cetak, akhirnya pada 22 Maret 2008 keinginan itu terwujud. Sebuah media yang diberi nama Lensa meluncur dari tangan sejumlah mahasiswa Unmuha.

“22 Maret 2008, tepatnya pukul 11.00 Wib, di ruang sederhana lantai 3 gedung utama, Pers Mahasiswa Unmuha dikukuhkan. Kita sepakat memberi nama tabloid Lensa, dengan jargon Faktual dan Realistis,” kisah Nasruddin, 29 tahun, ketua umum lembaga pers mahasiswa Unmuha.

Baca selanjutnya…

Kategori:Berita