Beranda > Cerpen > Aroma Mie Aceh Di Jakarta

Aroma Mie Aceh Di Jakarta

Aroma Mie Aceh Di Jakarta

Oleh : Zulkarnaini Masry

Mie Aceh Abu Din.

Mennyediakan berbagai makanan khas Aceh

Mie Aceh

Nasi goreng

Gulai kambing

Martabak

Sederetan menu di atas melekat dikaca bagian depan gerobak kayu yang nampak lusuh. Di balik gerobak seorang pria paruh baya terlihat sibuk. Tangan kanannya memegang sendok, sesaat suara denting belanga terdengar, tapi tidak membuat gaduh. Di sisi dalam gerobak, mie mentah bergerumbul-gerumbul. Warnanya kuning mengkilat, sedikit berbeda dengan warna mie mentah yang sering terlihat di Aceh.

Di samping dapur, terdapat meja panjang dilengkapi tiga bangku kayu. Meja tersebut dilapisi karpet merah dengan motif kotak-kotak. Serbet tersusun rapi, arca ditaruh dalam toples kecil. Dinding warung dipagari dengan spanduk bekas. Nuansa kesederhanaan begitu terpancar. Hanya lantainya yang membuat kesan sedikit mewah, mengkilap putih karena dilapisi dengan keramik.

Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Pepatah itu membuat ia semakin di atas angin. Warung sederhana yang kini sudah 21 tahun ia kelola tak pernah sepi dari pengunjung. Yang menarik, bukan hanya orang Aceh, orang-orang Jakarta pun doyan mengkonsumsi mie Abu Din. Satu hari ia mendapatkan pemasukan dari hasil penjualan berkisar antara Rp. 500.000,- sampai Rp. 800.000,-. Dipotong biaya belanja dan tetek-bengek lainnya tinggal Rp. 200.000,- perhari sebagai pendapatan bersih. Dari sanalah ia dapat membiayai ke 4 anaknya sampai ke perguruan tinggi.

Dulunya ia tidak berniat akan ke Jakarta. Berawal dari kabar kenalannya, bahwa di Jakarta ada lowongan kerja. Akhirnya ia angkat koper mengadu nasib ke Ibu Kota. Pertama ia berharap di Ibu Kota selain bekerja ia dapat mewujudkan keinginannya untuk kuliah di perguruan tinggi. Harapan tinggallah jua. Keingginannya kuliah di perguruan tinggi melayang karena keterbatasan biaya.

Untuk tetap bertahan hidup, ia bekerja di toko kelontong dari tahun 1973 sampai 1984 di depan kampus Universitas Islam Negeri Jakarta.

Karena tidak kerasan, ia hengkang. Selama 4 tahun ia menjadi pengangguran di Jakarta, dari 1984 sampai 1987. Padahal saat itu ia sudah mempersunting Nurhayati (Alm) sebagai istrinya. Sedikit bersyukur perempuan pendamping hidupnya adalah seorang cekgu yang mempunyai penghasilan tetap tiap bulan. Namun, itu bukan alasan untuk ia tidak bekerja. Hanya saja, belum ada pekerjaan yang cocok.

Memasuki tahun 1987 ia membeli lapak sebagai tempat jualan seharga Rp. 370.000,- dari seorang temannya. Dan tempat itulah yang hingga kini ia gunakan sebagai tempatnya berjualan.

“hana trep lon meurunoe,” (tidak lama saya belajar)

Ia belajar dari nol. Padahal saat itu ia tidak tahu sama sekali cara membuat mie. Bermodal keyakinan ia berguru pada temannya cara membuat mie sampai memasak. “Yang penting tetap fokus terhadap pekerjaan, bek lagee siben droep daruet,” (jangan seperti monyet menangkap belalang) sambungnya dengan ramah.

“hidup di kota harus tekuni satu bidang. Kalau kita tekun terhadap satu bidang maka kita tidak akan lapar,” sambung dengan bahasa Indonesia. Hanya sesekali ia melontarkan kata-kata dengan bahasa Indonesia, selebihnya kami bicara dengan bahasa Aceh.

Perjalanan yang cukup melelahkan. Setelah pesawat Lion Air mendarat mulus di Bandara Sukarnoe Hatta, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan jasa angkutan umum jenis damri. Tujuan terminal Lebak Bulus memakan waktu sampai tiga jam, satu jam lagi naik angkot tujuan Ciputat Jakarta Selatan. Baru kami sampai di kampus Universitas Muhammadiyah Jakarta. Sekitar 200 meter dari kampus, warung mie Aceh Abu Din bertapak.

Di sanalah ia merajut hari-harinya dengan tetap mempertahankan masakan khas Tanah Rencong di bumi Betawi.

Categories: Cerpen
  1. 23 Mei 2009 pada 07:01 | #1

    jarang di jakarta ada jual yang komplit, apalagi ada sie kameng..

    ka lagee bak nanggroe..

    K

  2. 23 Mei 2009 pada 10:55 | #2

    Tulisan yang bagus, sampaikan salam saya buat Abu DIn di Gintung.

    Ruslan,
    Canada

  3. zoelmasry
    25 Mei 2009 pada 15:25 | #3

    nyan keuh hai abang.
    payah neu rasa sigoe.

  4. 21 Februari 2012 pada 05:07 | #4

    informasinya sngat bermanfaat..buat teman teman yang ingin coba makan mie aceh, dan bagi teman mau dapat informasi tentang makanan khas aceh kami di jakarta dan beberapa kota lain seperti yogyakarta dan sulawesi, untuk informasi lengkapnya bisa langsung..di http://mieacehjalyjaly.wordpress.com

    salam kenal selalu…juga salma blogger….

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.