LAM LUMPOE
LAM LUMPOE
Oleh : Zulkarnaini Masry*
Jas hitam melekat erat di badanku, kupiah tak pernah lekang kemanapun aku pergi. Celana kain licin mengkilap menutupi separuh sepatu kulit merek luar negeri yang telah ku semir tadi pagi. Dan satu hal lagi, kaca mobil kuturunkan habis sembari memberi salam ke setiap orang yang terlintas di panteue jaga (pos jaga).
”assalamualaikum?” Aku turun dengan sikap wibawa penuh ku nampakkan.
”waalaikum salam,” jawab teungku-teungku (panggilan untuk orang lekaki di Aceh) yang ada di panteue jaga itu.
”masyarakat bek sampee ji peungeut. Bandum tanyoe ureung Aceh, peukah jih peureutee lokal atawa peureutee nasional (masyarakat tidak boleh ditipu. Kita semua orang Aceh, baik partai lokal maupun partai nasional). Yang penting, orang yang kita pilih bisa bertanggung jawab dan amanah,” mereka manggut-manggut mendengar orasi politikku.
”
Aku sudah membayangkan, kalau aku terpilih sebagai wakil rakyat, Gampoeng Pungget (nama kampung) ini akan kujadikan sebagai kampung binaan. Sarana dan prasarana harus direnovasi, jalan berlobang harus ditempel, irigasi juga harus kutangani sampai tuntas. Aku siap berjuang demi kesejahteraan masyarakat Gampoeng Pungget. Begitu janjiku pada Geuchik Yaman kepala Gampoeng Pungget suatu malam. Geuchik Yaman juga sudah berikrar bahwa semua penduduk Gampoeng Pungget akan mencontreng no 1 Peureutee Pliek (Partai Pliek)
Semua permasalahan yang terjadi di Gampoeng Pungget dicatat oleh tim pemenang Peureutee Pliek. Ku lihat banyak permasalahan yang mendesak, listrik, jalan belum teraspal, pelayanan Pukesmas tidak maksimal, irigasi hampir tiga tahun juga belum rampung. Padahal masyarakat di situ umumnya adalah petani.
Permasalahan itu benar-benar kumamfaatkan, spanduk dan stiker melekat hampir disetiap pohon pinggir jalan Gampoeng Pungget. Aku tersenyum lepas, senyum ku buat paling ikhlas. Kata-kata indah kurangkai dari pahitnya hidup masyarakat Gampoeng Pungget.
”contreng no 1 dari Peureutee Pliek”
”berjuang dengan hati, melihat dengan mata,
berjuang demi rakyat, berbuat dengan janji”
Kata-kata itu terdapat hampir semua pelosok Gampoeng Pungget.
”lon lakee izin dilee teungku beh, Insya Allah peu nyang teungku peugah na keuh seubagoe tanggoeng jaweub bagi lon (saya mohon pamit dulu, Insya Allah harapan teungku semua sebagai tanggung jawab saya).”
Aku pamit. Tiga langkah aku berbalik tim pemenang Pureutee Pliek langsung mendekat ke panteu jaga, amplot putih berisi lembaran ribuan, dan tak lupa kartu nama dibagikan ke mereka.
Mobil bergerak pelan, mereka melepas aku dengan tersenyum. Sejurus kemudian mobil hasil rental itu meninggalkan debu, mengepul-ngepul mengusap wajah teungku-teungku itu.
Hari yang ku nanti-nantikan tiba.
”aku pasti menang.” aku sumringah mengingat kepolosan masyarakat Gampoeng Pungget dan Geuchik Yaman.
Perkiraan ku tak meleset. Wakil Rakyat dari Peureutee Pliek melambung tinggi di Tempat Pemungutan Suara (TPS) Gampoeng Pungget. Pilihan mereka adalah aku. Setelah suara sudah dihitung semua, aku tetap menjadi sang juara.
”berkat masyarakat Gampoeng Pungget” bisikku dalam hati.
Pelantikan tinggal menghitung hari. Lega rasanya, akhirnya aku adalah sang juara. Menjadi orang besar sudah terasa dari sekarang. Rumah sederhana tempat aku bernaung tak kunjung reda didatangi tamu. Ada saja yang datang, sampai-sampai mereka harus rela berdesak-desakan di rung tamu yang sempit.
“rumah ini harus diperbesar lagi,” perintahku dalam hati
Deretan mobil mewah diparkir dipekarangan yang sempit, ku lihat ada lima, satu di antaranya mobil keluaran terbaru.
“rencana bapak membangun irigasi di Gampoeng Pungget, apa sudah ada yang tangani?” tanya pak Muni. Ia kontraktor kelas kakap. “kalau belum, dengan senang hati kami bersedia menjadi mitra bapak,” sambungnya lagi
“boleh! Asal aturan mainnya jelas,” tukasku tegas
“masalah pembagian hasil, bisa kita atur. Yang penting bapak senang,” Muni meyakinkan
“oke!” kami saling menjabat
Satu persatu mereka meninggalkan rumah mungilku, dari dalam rumah aku masih bisa melihat kearah Muni mengacungkan jempol kepada ku.
“harapan masyarakat Gampoeng Pungget akan segera ku buktikan,” ujarku lirih
Setelah rombongan pak Muni pergi, aku masih berdiri mematung bersandar di kosen pintu, menelusuri jalan panjang menjadi wakil rakyat.
***
Aku terkejut, ada yang memegang pundakku.
“maaf pak, ini sudah jam tiga, warung mau ditutup,” penjaga warung kopi membuyarkan lumpoe (mimpi) aku menjadi wakil rakyat.
“oh..! ya..! maaf,” aku bangkit dengan wajah semu
Sruutt…!! kopi hitam yang tinggal separuh ku teguk sampai habis dan keluar dari warung dengan pikiran melayang ke gedung dewan.
“ternyata aku bukan pilihan masyarakat Gampoeng Pungget,” terus berjalan menyusuri lampu-lampu kota yang tak begitu terang.
*penulis adalah Pimpinan Redaksi Tabloid Lensa Unmuha Banda Aceh 29 April 2009 Pukul 11.40 Wib
Bagus sekali. Amat menghibur, Bang.
Neuci buka pue na pah nyan??