Pilpres :
Pertobatan KIP Aceh
Oleh : Zulkarnaini Masry
Kantor Geuchiek Gampong Lam Ara, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh tampak lengang. Di tangga hanya ada sepasang sandal jepit. Beberapa stiker yang bunyinya mengajak masyarakat untuk mendaftarkan diri sebagai pemilih di Pemilu Presiden (Pilpres) ditempel pada jendela depan.
Di ruangan, dua perempuan terlihat serius berbincang. Perempuan yang lebih tua adalah masyarakat setempat, sedang menunggu sekretaris desa. Dan satu lagi pekerja di kantor tersebut. Tepat didepan pintu masuk, papan pengumuman bersandar di dinding. Puluhan kertas Daftar Pemilih Sementara (DPS) Pimilu Presiden yang akan dilaksanakan Juli mendatang ditempel rapi.
Read more…
Aroma Mie Aceh Di Jakarta
Oleh : Zulkarnaini Masry
Mie Aceh Abu Din.
Mennyediakan berbagai makanan khas Aceh
Mie Aceh
Nasi goreng
Gulai kambing
Martabak
Sederetan menu di atas melekat dikaca bagian depan gerobak kayu yang nampak lusuh. Di balik gerobak seorang pria paruh baya terlihat sibuk. Tangan kanannya memegang sendok, sesaat suara denting belanga terdengar, tapi tidak membuat gaduh. Di sisi dalam gerobak, mie mentah bergerumbul-gerumbul. Warnanya kuning mengkilat, sedikit berbeda dengan warna mie mentah yang sering terlihat di Aceh.
Di samping dapur, terdapat meja panjang dilengkapi tiga bangku kayu. Meja tersebut dilapisi karpet merah dengan motif kotak-kotak. Serbet tersusun rapi, arca ditaruh dalam toples kecil. Dinding warung dipagari dengan spanduk bekas. Nuansa kesederhanaan begitu terpancar. Hanya lantainya yang membuat kesan sedikit mewah, mengkilap putih karena dilapisi dengan keramik.
Read more…
PERSMA
JEMBATAN SETELAH DAMAI
Oleh : Zulkarnaini Masry
Sebuah keinginan yang tertunda. Setelah perencanaan menerbitkan media kampus awal 2006 terhenti karena tidak ada biaya cetak, akhirnya pada 22 Maret 2008 keinginan itu terwujud. Sebuah media yang diberi nama Lensa meluncur dari tangan sejumlah mahasiswa Unmuha.
“22 Maret 2008, tepatnya pukul 11.00 Wib, di ruang sederhana lantai 3 gedung utama, Pers Mahasiswa Unmuha dikukuhkan. Kita sepakat memberi nama tabloid Lensa, dengan jargon Faktual dan Realistis,” kisah Nasruddin, 29 tahun, ketua umum lembaga pers mahasiswa Unmuha.
Read more…
LAM LUMPOE
Oleh : Zulkarnaini Masry*
Jas hitam melekat erat di badanku, kupiah tak pernah lekang kemanapun aku pergi. Celana kain licin mengkilap menutupi separuh sepatu kulit merek luar negeri yang telah ku semir tadi pagi. Dan satu hal lagi, kaca mobil kuturunkan habis sembari memberi salam ke setiap orang yang terlintas di panteue jaga (pos jaga).
”assalamualaikum?” Aku turun dengan sikap wibawa penuh ku nampakkan.
”waalaikum salam,” jawab teungku-teungku (panggilan untuk orang lekaki di Aceh) yang ada di panteue jaga itu.
”masyarakat bek sampee ji peungeut. Bandum tanyoe ureung Aceh, peukah jih peureutee lokal atawa peureutee nasional (masyarakat tidak boleh ditipu. Kita semua orang Aceh, baik partai lokal maupun partai nasional). Yang penting, orang yang kita pilih bisa bertanggung jawab dan amanah,” mereka manggut-manggut mendengar orasi politikku.
”
Read more…
Yang Tak Berbekas
Zulkarnaini Masry
Gubuk-gubuk kecil tanpa dinding berjejer di pinggir pantai. Riuh rendah bersahut-sahutan seiring deburan ombak. Anak-anak sampai orang dewasa dewasa tumpah ruah menikmati keindahan pantai. Ramai sekali, kira-kira 1000-an pengunjung sore itu, Minggu 13 April 2009, mereka umumnya penduduk Banda Aceh dan Aceh Besar.
Babah Dua nama pantai itu. Pantai ini terletak di Desa Lampu’uk Kecamatan Lhok Nga Kabupaten Aceh Besar. Di Lampu’uk banyak tempat yang bisa dijadikan tempat sekedar melepas penat. Selain Babah Dua ada Babah Sa, Tebing, Off Road. Pantai Lampu’uk merupakan salah satu objek wisata laut yang ada di Aceh. Setiap Minggu, selalu ramai. Ada saja yang datang, bukan hanya orang pribumi. Bahkan ada juga wisatawan asing. Mereka datang membawa keluarga saat liburan.
Masih ingat tanggal 26 Desember 2004 lalu?
Bagi masyarakat Aceh tak mungkin melupakan musibah itu. Gempa disusul tsunami dipagi Minggu 26 desember 2004 telah meluluh lantakkan bumi Iskandar Muda. Lampu’uk salah satunya. Desa yang terletak 15 Km dari Banda Aceh ini sangat parah akibat tsunami. Hampir semua penduduk meninggal saat musibah itu datang. Melihat kondisi saat itu, tak yakin Lampu’uk akan berubah menjadi lebih indah.
“tak berbekas.” Kata Jasman, kawan aku yang baru sampai dari Jakarta.
Ia terkejut melihat suasana sore di Babah Dua, sangat kontras dengan apa yang ia pikirkan saat di Jakarta.
Dan semakin terkejut saat melihat cewek-cewek abg yang berbusana jauh dari peraturan negeri syariah. Mungkin sedikit berlebihan kalau aku katakan layaknya Jakarta. Umumnya cewek-cewek yang datang tidak berbusana muslimah. Dan di sana sudah menjadi hal yang biasa. Apakah ini salah? Tidak tahu.
Banyak penceramah mengatakan, stunami di Aceh sebagai peringatan. Sebelum tsunami maksiat notabene dilakukan di pantai-pantai. Benar atau salah wallahua’alm. Tapi kalau ada benarnya, sangat disayangkan. Terlalu cepat kita melupakan. Sehingga jejak-jejak musibah “raksasa” itu tak lagi berbekas.
haba rakan