Arsip

Arsip untuk Februari, 2009

Matahari di pucuk rumbia

17 Februari 2009 1 komentar

Senjata itu kembali menyalak. Nyanyiannya mengalahkan petir saat hujan kemarin siang.
Ada yang mengerang di sana.
“ah! Tidak mungkin, mereka kan juga punya hati. Tidak mungkin mereka tega melihat darah tumpah ruah, mengalir deras dari tubuh kami,”
Kecuali itu bukan mereka yang diberi hati oleh tuhan. Tetapi, M16 yang kerasukan syetan. Walaupun sudah terlalu banyak darah mengalir karena M16 itu. Selalu demi perjuangan.
Begitu dekat, aku baru saja terbangun dari tidur setelah shalat subuh.
“seret!,”
“ikat!,”
“mata-mata kau!,”
Aku mimpi lagi, benarkah? Mimpi di atas sajadah tua dengan telekum masih utuh di badanku, tidak mungkin.
Saat aku berada antara ada dan tiada, bunyi itu kembali menggema.
Tum!!
Aku terpelanting. Berdiri, tapi kakiku tak sanggup menopang tubuhku sendiri. Aku kembali tersungkur. Suara itu semakin dekat. Ada rintihan di sana. Ku seret tubuhku yang masih dibalut pakaian untuk menghadap tuhan. Melalui lobang dinding pelepah rumbia, mataku mencari dimana mereka.
“Aini…! Aini..” suara rintihan itu menyentuh kupingku.
“Aini! Bukankah itu nama pemberian ayah kepadaku,”
Saat bola mata terbentur dengan pakaian loreng, aku masih setengan sadar.
“Aini!,” suara itu kembali lolos dari lolongan orang-orang di sampingnya.
“Allahuakbar!,” aku histeris. Ku dapati tubuh suamiku terbaring di tanah yang becek dengan darah. Sosok yang selalu melindungi aku. Dan kini….!
Sekejap aku sudah berada di tengah-tengah seragam loreng, di depan moncong M16. karena tanganku yang kecil, tubuhnya tak dapat ku rangkul sepenuhnya. Mereka hanya menatap bengis, penuh dendam dimata yang merah menyala.
Saat air mata mengalir deras membasahi jasad suamiku. Mereka menghilang meninggalkan jejak derita yang harus aku pikul sendiri. Bahkan, ketika matahari tepat berada di pucuk rumbia. Jasad suamiku masih pulas dalam dekapan telekum yang sudah berubah warna.

Oleh Joel Masry
Banda Aceh, 04 Januari 2009

Categories: Cerpen

Perempuan Simpang Lima

Sudah dua jam aku disini. Diruangan ini aku hanya ditemani benda-benda yang tak mau bicara, kursi, meja, monitor sampai barang lux lainnya. Diluar suasana semakin sepi. Bagaimana tidak, dari tadi klat-2pagi hujan turun. Sampai sekarang tidak ada tanda-tanda akan reda. Sesekali dentuman keras terdengar dari langit sana menyentakkan aku dari lamunan. Sekejap diikuti sabetan cahaya keemasan jelas terlihat dikaki langit. Tiba-tiba… Klep…….!

Read more…

Categories: Cerpen

Aceh masa lampau

0002

Categories: Feature

Minat Baca Dan Budaya Ilmiah Dunia Remaja.

Sadar tidak sadar, manusia selalu berhadapan dengan dunia ilmiah. Tidak jauh kita katakan. Adanya tong sampah karena orang berpikir bagaimana cara agar sampah-sampah tidak berserakan. Maka, timbullah ide manusia untuk membuat tong sampah. Salah satu contoh.

Pada dasarnya Ilmiah berasal dari kata ilmu. Hal ini disampaikan oleh Yuli Zuardi Rais, Direktur Save Emergency For Aceh (SEFA) pada diskusi “minat baca dan budaya Ilmiah dunia Remaja” Jum’at (16/1) lalu. Diskusi ini bertujuan untuk menumbuh kembangkan minat baca dan penerapan budaya ilmiah dikalangan remaja, yang diikuti oleh Young club SEFA dan beberapa mahasiswa.

Read more…

Categories: Hasil Forum

Orang miskin dilarang jatuh cinta

Categories: plang-pleng
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.